Izin PPIU No. U.316-2021 | Izin PPIHK No. 308-2022
PROMO Potongan Rp 1 Juta via Website! Klaim Sekarang

Apa yang Dimaksud dengan Ibadah Sa’i?

April 17, 2026 Ajis Abdu Rohman Hanapi Blog

Sa’i Adalah: Pengertian, Makna, dan Tata Cara Pelaksanaan Sesuai Sunnah

Dalam menyempurnakan rukun umroh maupun haji, jamaah akan melewati satu fase ibadah fisik yang sarat akan makna ketauhidan, yaitu Sa’i. Memahami tata cara pelaksanaan ibadah ini sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban agar amal ibadah kita diterima (maqbul) dan terhindar dari perkara-perkara yang tidak ada tuntunannya (bid’ah).

Apa yang Dimaksud dengan Ibadah Sa’i?

Secara bahasa, Sa’i berarti berjalan atau berusaha. Adapun secara syariat, Sa’i adalah rukun umroh dan haji yang dilakukan dengan berjalan kaki bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali putaran. Allah Ta’ala berfirman melegitimasi syi’ar ini:

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.” (QS. Al-Baqarah: 158).

Napak Tilas Ketawakalan Ibunda Hajar

Ulama salaf menjelaskan bahwa Sa’i bukan sekadar ritual fisik melintasi dua bukit, melainkan napak tilas dari puncak ketawakalan dan ikhtiar Ibunda Hajar (istri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam). Beliau berlari-lari kecil di tengah lembah tandus Makkah untuk mencari air bagi putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Dari kisah ini, seorang mukmin diajarkan bahwa setelah kita berdoa dan bertawakal penuh kepada Allah, harus ada ikhtiar nyata yang dilakukan dengan gigih dan penuh kesabaran.

Tata Cara Sa’i Sesuai Pemahaman Salafus Shalih

Berdasarkan hadits panjang dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengenai sifat haji Nabi (HR. Muslim), berikut adalah tuntunan pelaksanaan Sa’i yang sesuai sunnah:

1. Memulai dari Bukit Shafa

Sa’i wajib dimulai dari Bukit Shafa. Ketika mendekati bukit, disunnahkan membaca ayat QS. Al-Baqarah: 158, lalu mengucapkan “Nabda-u bimaa bada-allah bihi” (Kita mulai dengan apa yang Allah memulainya). Setelah menaiki Shafa, jamaah menghadap kiblat (Ka’bah), mengangkat kedua tangan (seperti berdoa, bukan takbiratul ihram), lalu bertakbir dan membaca dzikir tauhid sebanyak tiga kali, diselingi dengan doa pribadi.

2. Berjalan dan Berlari Kecil (Ramal)

Turun dari Shafa, jamaah berjalan biasa menuju Marwah. Di antara dua bukit tersebut terdapat area yang kini ditandai dengan lampu neon hijau. Khusus bagi jamaah laki-laki, disunnahkan untuk berlari-lari kecil (ramal) di area ini. Sedangkan bagi jamaah perempuan, ulama sepakat agar tetap berjalan dengan tenang dan wajar demi menjaga muru’ah dan aurat.

3. Berdoa di Bukit Marwah

Setibanya di Bukit Marwah, jamaah kembali menghadap Ka’bah, mengangkat tangan, dan membaca dzikir serta doa yang sama persis seperti yang dilakukan di Bukit Shafa.

4. Perhitungan Tujuh Putaran

Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung sebagai satu putaran penuh. Kemudian, kembali dari Marwah ke Shafa dihitung sebagai putaran kedua. Dengan demikian, ibadah Sa’i akan selalu berakhir di Bukit Marwah pada putaran ketujuh.

Hindari Kesalahan dalam Melaksanakan Sa’i

Banyak jamaah awam yang terjatuh pada kekeliruan saat Sa’i, seperti membaca doa-doa khusus yang dikarang untuk setiap putaran. Padahal, menurut para ulama Ahlus Sunnah, tidak ada doa khusus dari Rasulullah untuk masing-masing putaran Sa’i. Jamaah dibebaskan untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir mutlak, atau memanjatkan doa kebaikan dunia dan akhirat dengan bahasa yang dipahaminya.

Mendapatkan bimbingan ibadah yang lurus adalah hak setiap jamaah. HaramainKU berkomitmen mendampingi perjalanan umroh Anda dan keluarga di tahun 2026 dengan muthawwif yang ahli dan bermanhaj salaf. Untuk informasi pendaftaran paket edukatif dan premium, segera hubungi kami melalui WhatsApp di https://wa.me/6281210001665.


Bagikan:
WhatsApp
Cari Artikel